Ekoteologi Pesantren: Sinergi Fatwa MUI No. 86/2023 dan Kepemimpinan Kiai dalam Membangun Perilaku Ekologis Santri
Keywords:
Pesantren Eco-Theology, MUI Fatwa No. 86/2023, Ecological Behavior, Ekoteologi Pesantren, Fatwa MUI No. 86/2023, Perilaku EkologisAbstract
Perubahan iklim global merupakan tantangan multidimensi yang menuntut kolaborasi antara kebijakan publik, norma sosial, dan nilai keagamaan. Fatwa MUI No. 86 Tahun 2023 tentang pengendalian perubahan iklim hadir sebagai pijakan syar’i untuk mendorong perilaku ramah lingkungan. Dalam konteks pesantren, fatwa ini berpotensi membentuk kesadaran ekologis melalui integrasi ajaran fiqh bi’ah dan kepemimpinan kiai. Penelitian ini menganalisis peran fatwa sebagai norma sosial serta kontribusi kepemimpinan kiai dalam membangun perilaku ekologis santri. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka hermeneutik dan fenomenologi, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan telaah dokumen, lalu dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan menunjukkan bahwa penerapan fatwa memperkuat empat dimensi Ecological Behavior Theory (EBT): personal sphere (tanggung jawab moral), social sphere (norma kolektif), behavioral sphere (kebiasaan ekologis melalui teladan), dan leadership sphere (kepemimpinan karismatik kiai). Kiai menjadi penghubung antara nilai normatif dan praktik ekologis, sehingga perilaku ramah lingkungan diposisikan sebagai bagian dari ibadah. Integrasi ini menghasilkan model ekoteologi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran ekologis dan menawarkan strategi mitigasi perubahan iklim berbasis agama.
Global climate change is a multidimensional challenge that demands collaboration among public policy, social norms, and religious values. The Indonesian Ulema Council (MUI) Fatwa No. 86 of 2023 on climate change mitigation serves as a shar‘i foundation to promote environmentally friendly behavior. Within the pesantren context, this fatwa has the potential to foster ecological awareness through the integration of fiqh bi’ah principles and kyai leadership. This study examines the fatwa’s role as a social norm and the contribution of kyai leadership in shaping students’ ecological behavior. Employing a qualitative approach with hermeneutic and phenomenological frameworks, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis, and analyzed using Miles and Huberman’s interactive model. The findings reveal that fatwa implementation strengthens four dimensions of the Ecological Behavior Theory (EBT): personal sphere (moral responsibility), social sphere (collective norms), behavioral sphere (ecological habits through role modeling), and leadership sphere (charismatic kyai leadership). The kyai acts as a bridge between normative values and ecological practice, positioning environmental stewardship as part of religious devotion. This integration produces an effective eco-theological model for enhancing ecological awareness and offers faith-based strategies for climate change mitigation.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Jurnal Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.